Part #3: Pesona Akhlak Muhammad
Lelaki muda itu bernama Muhammad. Penduduk Mekah menggelarinya ash-Shadiqul amin yang artinya “Orang yang jujur lagi dapat dipercaya”.
Memang begitulah Muhammad. Kejujuran menjadi senjatanya dalam bertutur kata. Kesalehan terpancar dalam jiwa lelaki muda ini.
Tak hanya jujur, tapi juga anggun perangainya, mulia akhlaknya, dan lembut jiwanya. Seantero penduduk Mekah telah mengakui keindahan budi lelaki muda ini.
Pesona lelaki muda itu sampai juga ke telinga Khadijah, janda kaya yang sukses dengan perniagaannya. Saat itu, Khadijah tengah mencari seorang lelaki yang dapat dipercaya membantu mengurus perniagaannya ke negeri Syam.
Kemajuan pesat bisnisnya, menjadikan Khadijah kuwalahan mengurusnya. Jatuhlah pilihan itu kepada Muhammad. Alangkah senang dirinya bila Muhammad mau membawa barang perniagaannya ke negeri Syam.
Muhammad sendiri selama ini hidup di bawah asuhan pamannya, Abu Thalib, yang hidup miskin dan serba kekurangan. Abu Thalib mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepada Muhammad dengan penuh ketulusan.
Tapi, menyadari usianya yang sudah merangkak tua, sementara usia Muhammad juga sudah lebih dari dewasa, Abu Thalib begitu memikirkan keadaan kemenakannya itu.
Suatu hari, Abu Thalib memanggil Muhammad dan berkata lembut kepadanya, “Wahai anak saudaraku, engkau tahu, pamanmu ini sudah tidak memiliki kekayaan lagi, padahal keadaan sudah sangat mendesak. Maka, apakah kiranya tidak lebih baik kalau engkau mulai berniaga dari sedikit demi sedikit, yang hasilnya dapat engkau gunakan untuk mencukupi kebutuhanmu sendiri.”
“Saya menurut saja apa yang menjadi keinginan paman,” jawab Muhammad.
Perbincangan singkat itu kemudian mengantarkan Abu Thalib menemui Khadijah untuk menawarkan kemenakannya agar diberi kesempatan membawa barang perniagaan Khadijah.
Bagai gayung bersambut, tanpa berpikir lagi, Khadijah langsung menyetujui tawaran itu dan menerimanya dengan hati penuh diliputi rasa gembira.
Pada hari yang telah ditentukan, Muhammad datang ke rumah Khadijah untuk membicarakan dan mengambil barang perniagaan yang akan dibawanya ke Syam.
“Ketahuilah, sesungguhnya, yang menarik hatiku hingga mememilihmu mengurus perniagaanku dan tidak penduduk Mekah yang lain, tak lain adalah karena berita yang sampai kepadaku tentang kejujuranmu dalam bertutur kata, kesungguhanmu, serta kemuliaan akhlakmu,” kata Khadijah kepada Muhammad.
Setelah tiba saatnya kafilah-kafilah Quraisy yang membawa perniagaan berangkat ke negeri Syam, Muhammad pun berkemas dan ikut serta berangkat bersama mereka membawa barang perniagaan milik Khadijah.
“Wahai Muhammad, berbahagialah engkau, dan semoga Tuhan mengaruniai laba dan keuntungan yang besar atas usahamu menjual barang perniagaan Khadijah,” kata pamannya, Abu Thalib.
Berangkatlah Muhammad dari Mekah menuju Syam untuk berniaga. Sebuah perjalanan melintas bentangan padang pasir yang luas. Sengatan terik matahari yang amat panas siap membakar tubuh siapa pun yang berada di bawahnya.
Perjalanan kali ini mengingatkan Muhammad pada kenangan perjalanan niaga pertamanya yang dilakukannya tiga belas tahun yang lalu. Saat itu, ia bersama pamannya, Abu Thalib, melintasi padang pasir yang dilaluinya hari ini menuju ke negeri Syam, kota tujuannya.
Dalam perjalanan niaga kali ini, Muhammad ditemani Maisarah, pelayan setia Khadijah.
Muhammad sendiri tidak mengetahui, ikut sertanya Maisarah mendampinginya adalah atas perintah khusus Khadijah guna mengamat-amati perilakunya selama perjalanan pulang pergi ke negeri Syam. Serta mengamati cara-caranya dalam berniaga.
Dan, Maisarah benar-benar melakukan perintah khusus itu dengan baik dan sempurna.
***
Sepanjang perjalanan dari Mekah menuju Syam, Maisarah terus-menerus mengamati gerak-gerik Muhammad. Rasa takjub sering menyembul di hatinya bila melihat keluhuran budi Muhammad yang tak biasa.
Tak seperti kafilah lainnya, Muhammad tidak suka berkumpul dan beramai-ramai bila sedang beristirahat di suatu tempat. Ia memilih menyendiri di tempat yang agak jauh.
Saat Muhammad sampai di Kota Syam, turunlah ia di pasar Bushra, suatu tempat pemberhentian kafilah di kota itu. Seperti biasa, Muhammad memilih menyendiri, tidak berkumpul bersama kafilah lainnya.
Muhammad memilih duduk di bawah sebuah pohon besar yang letaknya tak jauh dari pasar. Dari bawah pohon itu, mata Muhammad menyapu sekelilingnya. Memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Melihat itu, Maisarah diam saja. Ia tidak berani bertanya atau pun mengajak Muhammad untuk berteduh di tempat lain.
Saat Maisarah memberanikan diri untuk meninggalkan Muhammad barang sebentar untuk keperluan singgah di rumah kenalannya, di tengah perjalanan, seorang pendeta Nashrani mencegatnya.
Rupanya, pendeta yang bernama Masthura itu sudah mengenal Maisarah.
“Wahai Maisarah, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya pendeta Masthura.
“Boleh. Apa yang ingin engkau tanyakan kepadaku,” jawab Maisarah.
“Siapakah lelaki muda yang sedang duduk di bawah pohon besar itu?” tanya pendeta Masthura sembari menunjuk ke arah pohon besar di mana Muhammad sedang duduk di bawahnya.
“Lelaki muda itu berasal dari Tanah Suci, Mekah. Ia keturunan Quraisy,” jawab Maisarah.
“Apakah engkau melihat di kedua matanya ada tanda merah?” tanya pendeta Masthura lagi.
“Ya,” jawab Maisarah.
“Itu dia, itu dia,” kata pendeta Mashtura tak dapat menyembunyikan ketakjubannya.
“Dia itulah penutup Nabi-nabi Allah. Semoga aku dapat mengetahuinya di kala ia diangkat menjadi Nabi,” lanjut pendeta Masthura, masih dengan rasa ketakjubannya.
“Ketahuilah, wahai Maisarah, tidak ada seorang pun yang berani berteduh di bawah pohon itu, melainkan ia adalah seorang yang akan menjadi nabi dan utusan Allah,” kata pendeta Masthura kemudian, dengan senyum mengembang di bibirnya.
Maisarah diam dalam ketajuban.
Beberapa saat kemudian, pendeta itu berlari-lari kecil menuju ke tempat di mana Muhammad sedang duduk di bawah pohon. Pendeta itu menemui Muhammad dan memandanginya dengan seksama.
Sejurus kemudian, pendeta itu mencium wajah dan kaki Muhammad. “Ada apa ini?” tanya Muhammad yang dibuat heran oleh perilaku aneh sang pendeta.
“Aku percaya kepadamu dan aku menyaksikan bahwa engkaulah utusan terakhir yang dijanjikan, yang telah disebutkan Allah dalam Taurat,” kata pendeta itu.
Pendeta itu diam sejenak. Lalu meneruskan perkataannya.
“Ya Muhammad, sesungguhnya aku telah melihat tanda-tanda kenabian yang ada padamu, sebagaimana yang telah disebutkan dalam kitab-kitab kuno. Hanya tinggal satu tanda saja yang belum aku lihat.”
Pendeta itu menjeda perkataannya, lalu meneruskannya, “Maka, bolehlah aku meminta agar engkau membuka belikatmu, dan perkenankanlah aku melihatnya?”
Muhammad sedikit membuka bajunya, sekedar memperlihatkan belikatnya.
Pendeta itu memperhatikannya sebentar, sebelum kemudian berkata dengan lantang, “Sungguh, aku bersaksi, bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, dan aku menyaksikan bahwasannya engkau adalah rasul Allah dan juga nabi yang ummy, yang pernah diberitakan dengan penuh kegembiraan oleh Isa putra Maryam, karena beliau pernah berkata, ‘Tidak akan turun pada masa kemudian dariku di bawah pohon ini melainkan seorang nabi yang ummy lagi dari bangsa Arab keturunan Hasyim serta berasal dari penduduk Mekah’.”
Fragmen menakjubkan ini tak luput dari pengamatan Maisarah.
Waktu-waktu selanjutnya, Maisarah lebih banyak lagi dibuat terdecak kagum oleh perangai indah Muhammad. Keluhuran akhlaknya yang tinggi, caranya bertransaksi yang menawan, kejujurannya dalam bertutur kata, dan kesempurnaan kepribadiaannya.
Sungguh mengagumkan di mata Maisarah.
“Pantaslah kalau lekaki muda ini dijuluki ash-Shadiqul amin oleh kaumnya,” gumam Maisarah. (bersambung)













