Oleh Badiatul Muchlisin Asti
Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia (Yasmina) Grobogan

Suarayasmina.com | Ramai di media sosial Facebook, postingan seorang pemengaruh (influencer) tentang terapi urin yang dijalani seorang artis semasa hidupnya. Sebagian besar warganet menanggapinya dengan jijik, tapi ada pula yang menganggapnya biasa, karena para pelaku terapi urin tentu memiliki argumen sebagai landasan mereka melakukannya—yang bagi sebagian besar orang, mungkin memang terasa menjijikkan.

Di Indonesia, sebenarnya perbincangan soal terapi urin sudah berlangsung pada tahun 2000-an. Ketika itu, beredar buku-buku yang mengupas tentang terapi urin, di antaranya buku berjudul Terapi Auto Urin, Penyembuhan dengan Air Seni Sendiri karya Iwan T. Budiarso, DVM, M.Sc., Ph.D. APU (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2002).

Sebelumnya juga terbit buku berjudul Terapi Urine, Panduan Lengkap Menuju Terapi Air Seni karya Coen Van der Kroon (Prestasi Pustaka, Jakarta, 2001) dan buku berjudul Air Kehidupan, Penyembuhan dengan Terapi Urin karya John W. Amstrong (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001).

Tahun 2004 juga terbit sebuah buku berjudul Sehat dengan Terapi Alami karya Mimie Kirono Laksmi (Elex Media Komputindo, Jakarta, 2004). Buku yang ini ditulis berdasarkan pengalaman penulisnya menjalani terapi urin sejak tahun 1979.

Jejak Terapi Urin dan Klaim Manfaatnya

Menurut Mimie Kirono Laksmi, terapi urin sudah dilakukan 5000 tahun yang lalu di India. Dalam kitab Damar Tantra tertulis percakapan antara Dewa Shiwa dan istrinya mengenai khasiat urin. Karena itulah air seni disebut juga shiwambu yang berarti air Dewa Shiwa.

Meskipun tidak lagi populer, menurut Mimie Kirono Laksmi, terapi urin tetap dilakukan oleh segelintir orang. Bahkan di India, terapi urin digalakkan kembali oleh Perdana Menteri India, Morarjibhai Desai (1977-1979). Dia mendirikan klinik Shiwambu Nature Cure Hospital yang mempraktikkan terapi urin kepada pasien. Klinik semacam itu kemudian berdiri di beberapa tempat di India. Secara berkala, negara itu mengadakan konferensi terapi urin yang diikuti oleh pakar urinopatis dari seluruh dunia.

Menurutnya, urin mengandung 200 unsur elemen murni yang sudah dibioaktifkan, sehingga ketika diminum langsung masuk ke saluran cerna dan diserap oleh tubuh. Mengutip Iwan T. Budiarso dalam buku Terapi Auto Urin, terapi urin sangat bermanfaat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, di antaranya asma, batu empedu, hepatitis, hipertensi, dan hipotensi, infesi saluran cerna, infeksi saluran kemih, dan lain-lain.

Iwan T. Budiarso juga menyebutkan bahwa air seni orang sehat pada umumnya tampak jernih dan dalam sehari akan keluar 750-1500 ml. Jika jumlah urin yang dikeluarkan menurun, karena misalnya suhu udara yang panas atau kurang minum air, urin akan tampak lebih pekat dengan warna lebih kuning.

Air seni pada penderita hepatitis berwarna kuning kunyit, pada penderita panas deman berwarna kuning kemerahan, dan pada penderita gangguan ginjal tampak keruh kemerahan. Rasa air seni berkisar dari rasa tawar asin (air seni orang sehat) hingga pahit (air seni yang berwarna kuning pekat).

Terkaitt asumsi umum yang menyatakan urin merupakan limbah yang sudah dibuang tubuh dan berbahaya bila meminumnya, menurut Mimie Kirono Laksmi, urin bukan sekedar benda yang dikeluarkan karena tidak dipakai oleh tubuh. Ketika kita makan, makanan diurai di dalam usus menjadi molekul-molekul kecil, kemudian masuk ke dinding usus, dan akhirnya ke darah. Darah mengalirkan molekul itu ke seluruh tubuh. Ketika melewati hati, racun-racun dikeluarkan dan dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk padat.

Darah yang sudah dibersihkan masuk ke ginjal. Di dalam ginjal, darah disaring dan jumlah air, garam, dan elemen lain yang berlebih dibuang. Elemen yang berlebih itu disimpan dalam ginjal dalam bentuk cairan yang disebut urin. Sebagian urin dikembalikan ke aliran darah, sebagian lagi dikeluarkan dari tubuh. Jadi, urin dikeluarkan dari tubuh bukan karena beracun, tapi karena pada saat itu tidak diperlukan tubuh.

Adapun saat terbaik minum urin, dianjurkan saat pagi hari, karena kualitas urin di pagi hari ketika seseorang bangun tidur adalah yang terbaik karena mempunyai kadar nutrien paling tinggi.

Terapi Urin dalam Tinjauan Medis

Meski telah digunakan sejak lama sebagai pengobatan tradisional mengatasi berbagai kondisi medis, namun efektivitas dan keamanan terapi urin hingga saat ini masih menjadi perdebatan. Bahkan banyak ahli medis yang menganggap khasiat terapi urin hanya mitos yang tidak berlandaskan fakta medis.

Para ahli, sebagaimana dikutip situs hellosehat.com, mengambil kesimpulan bahwa minum air kencing pada umumnya tidak akan menimbulkan efek samping yang berbahaya, tetapi berbagai kandungan dalam urin belum pasti memberikan khasiat tertentu bagi tubuh.

Ini karena, sekalipun memang ada, nutrisi atau zat baik dalam urin jumlahnya amat sedikit dan kekuatannya pun sangat kecil. Jadi, tak ada dampak yang bisa dirasakan oleh tubuh setelah menjalani terapi urin atau menggunakan urin sebagai obat luar.

Bahkan, para pakar berpendapat, pada dalam situasi tertentu, pemanfaatan air seni justru akan memperburuk masalah. Misalnya ketika seseorang disengat ubur-ubur, air seni yang bersentuhan dengan luka justru akan bereaksi dan menambah rasa sakit.

Selain itu, British Dietetic Association menambahkan bahwa jika seseroang menjalani terapi urin, semakin hari air seni yang dikonsumsi akan menjadi semakin pekat. Hal ini dapat berdampak pada sistem pencernaan atau bahkan mungkin berujung menjadi penyakit kandung kemih.

Komunitas ilmiah dan medis kebanyakan menentang terapi urin atau pemanfaatan urin secara umum. Majalah ilmiah Scientific American dan organisasi American Cancer Society pun telah menyerukan agar masyarakat menghindari terapi urin sebagai bentuk pengobatan, pertolongan pertama, atau perawatan diri.

Uji laboratorium yang dilakukan oleh beberapa peneliti di Loyola University of Chicago ternyata membuktikan bahwa berbagai bakteri hidup di dalam air seni. Ini berarti air seni tidak bersifat steril seperti yang dipercaya orang-orang pada zaman dahulu.

Para ahli, dokter, dan tenaga medis umumnya menyarankan agar seseroang lebih fokus pada pola makan yang seimbang, gaya hidup sehat, serta pengobatan yang sudah terjamin.

Terapi Urin dalam Tinjauan Syariat

Dalam syariat Islam, pengobatan termasuk bidang kehidupan yang mendapatkan sorotan sebagai bentuk syumuliyatul Islam atau kesempurnaan Islam. Menurut Islam, setiap penyakit pasti Allah Swt menurunkan penawarnya, sebagaimana sabda Nabi Saw:

إنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَ الدَّوَاءَ، فَتَدَاوُوا، وَ لَا تتداوُوا بِحَرَامٍ

 ”Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Thabrani)

إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya. Dan Allah menjadikan obat bagi setiap penyakit. Maka berobatlah, namun jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Abu Dawud).

Hadits-hadits ini menjadi dalil larangan pengobatan menggunakan benda haram. Dalam Islam, urin terkategori najis sehingga haram dikonsumsi. Karena itu urin tidak boleh dijadikan sebagai sarana pengobatan.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor: 2/Munas VI/MUI/2000 yang diputuskan dalam Munas VI tahun 2000 tentang penggunakaan organ tubuh, ari-ari, dan air seni manusia bagi kepentingan obat-obatan dan kosmetika secara tegas menyatakan haram penggunaan air seni manusia untuk pengobatan.

Dengan demikian menjadi jelas posisi pengobatan menggunakan urin dalam tinjauan syariat Islam. Seorang Muslim hendaknya menjadikan obat-obatan halal sebagai ikhtiar menggapai kesembuhan dari penyakit yang diidapnya. Wallahu a’lam.

Facebook Comments Box

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.